Oshin Travels: Mystical Kyoto Second Day

I am sure not all travels are enjoyable even for those “real travelers”. Yet, all travels are meaningful. This what i felt back then visiting Kyoto in the second day. I was in a melancholic state that even my memory to Kyoto is kind of gloomy, cloudy and rain. Maybe that is the reason why i keep referring Kyoto with its mystical atmosphere.

I stayed at my acquaintance’s apartment in Kyoto. Her apartment near the Kyoto Imperial Palace. In the morning she took me a walk around the Palace (we only walk by its fortress :P).

Temple around

Temple around

Temple around

Temple around

Temple around

Temple around

The statue of Raccoon or

The statue of Raccoon or “Tanuki” in Japanese. It is believed that this creature is the guardian of the temple.

Kyoto Imperial Palace the fortress

Kyoto Imperial Palace the fortress

Kyoto Imperial Palace the fortress

Kyoto Imperial Palace the fortress

Kyoto Imperial Palace the fortress

Kyoto Imperial Palace the fortress

Kyoto Imperial Palace the fortress

Kyoto Imperial Palace the fortress

IMG_9004

Kyoto Imperial Palace the fortress

Kyoto Imperial Palace the fortress

Kyoto reveals something i have not yet noticed before: My eyes had never seen myself thus i couldn’t see that in fact there are beautiful parts of myself lie within me. Secondly, i found that i could be such a moron – powerless girl who could do even moron things. The moment i was in Kyoto was the regretful moment that every time i remember it, the pain comes at the same time.

From the morning walk, i took a bus to the Arashiyama Koen. I think i have seen some of pictures of this place. Arashiyama Koen is famous for its Bamboo Forest. Since i didn’t even bring a camera (i took it all by cell’s camera :p), I couldn’t get good pictures of this place (and also all the places i visited). Blame my attitude, but i couldn’t help, i am not a pro..

Arashiyama Koen

Arashiyama Koen

Japanese girls with Yukata (Kimono for Summer) It's not a rare thing to find Japanese youth walk leisurely with this traditional attire.

Japanese girls with Yukata (Kimono for Summer)
It’s not a rare thing to find Japanese youth walk leisurely with this traditional attire.

Bamboo forest

Bamboo forest

Bamboo forest

My capture was very bad. I intentionally did that, so that instead of enjoying my captures you would have to come by yourself to enjoy with your irreplaceable camera: your beautiful eyes! ;p

IMG_9034    IMG_9035

Arashiyama Koen is such a huge place to explore. After walking along the bamboo forest, there will be a village where a famous poet, Basho Matsuo often visited. Rakushisha, or translated into The Cottage of Fallen Persimmon, is the cottage where Basho Matsuo stayed during his visit in Arashiyama.

There are several stones with inscribed poem on them.

There are several stones with inscribed poem on them.

Rakushisha Residence

Rakushisha Residence

The ink, paper, books and also household are set to represent what Basho Matsuo used in his

The ink, paper, books and also household are set to represent what Basho Matsuo used in his “creating” time..

The cottage

The cottage

Rakushisha Residence

Rakushisha Residence

Rakushisha Residence

Rakushisha Residence

Slipper

Slipper

Rakushisha Residence

Rakushisha Residence

Rakushisha Residence

Rakushisha Residence

Traditional Hat

Traditional Hat

Keep walking, and we will find many handicraft shops along the way. I am deeply interested in a shop, which i think i kept his name card but i forgot where i put it. Remember, I was in a melancholic state, so don’t blame me for such lacking and un-detailed information :p

Along the way, you will be performed with such a breathtaking scenery

Along the way, you will be performed with such a breathtaking scenery

This is the shop i am talking about. Very unfortunate i forgot the artist's name card.

This is the shop i am talking about. Very unfortunate i forgot the artist’s name card.

His modest yet marvelous creation resembles his figure, really!

His modest yet marvelous creation resembles his figure, really!

He said himself, that selling these art works will not make his life but his passion keeps him creating these art works.

He said himself, that selling these art works will not make his life but his passion keeps him creating these art works.

He is also pro in setting the lighting to create a warm-adorable colors.

He is also pro in setting the lighting to create a warm-adorable colors.

If i am not mistaken, this work is used for tea ceremony?

If i am not mistaken, this work is used for tea ceremony?

Clueless with this works.

Clueless with this works.

IMG_9108

IMG_9111

The beauty!!

The beauty!!

IMG_9113 IMG_9117

Why didnt i realize? He might be speaking English well. Why did i speak with him in my random-Japanese??

Why didnt i realize? He might be speaking English well. Why did i speak with him in my random-Japanese??

IMG_9121

IMG_9122

IMG_9123

IMG_9124

IMG_9125

I am specifically interested to the simplicity of his art works. Not a coincidence, it is because i am studying Yanagi Muneyoshi and the Mingei theory which is the content mainly concerns on the beauty of simplicity.

On the way back to Kyoto the city, i had to walk, again, along the village to reach the road for a taxi or a bus. Since i was walking a lot, i found again these old beautiful architectures plus its small blocks/small paths.

Still in Arashiyama

Still in Arashiyama

Traditional architecture

Traditional architecture

Kyoto's traditional architecture is often found with these black and white painted architecture.

Kyoto’s traditional architecture is often found with these black and white painted architecture.

Arashiyama

Arashiyama

This wonderful paths i love the most.

This wonderful paths i love the most.

Still in Arashiyama

Still in Arashiyama

Still in Arashiyama

Still in Arashiyama

Still in Arashiyama

Still in Arashiyama

I know i am terrible in narrating my captures on Kyoto. That’s why i really want to go back to Kyoto once or more times to really explore the city and find the connection between me and the mystical Kyoto.

I cant wait.

Advertisements

Cafe Kucing~

Pertama kali saya mendengar istilah cat cafe, atau kafe kucing dari teman saya, satu tahun setelah saya tinggal di Jepang. Sebelumnya, saya sama sekali tidak ada gambaran ada kafe kucing semacam itu.

Konsep kafe kucing adalah kafe yang di dalamnya berkeliaran kucing-kucing peliharaan dengan berbagai ras. Saya kurang tahu, konsep kafe itu orijinalnya bagaimana, tapi di kafe kucing (karena namanya kafe) menyediakan hidangan makanan dan minuman. Tidak hanya makanan untuk pengunjung, makanan kucing juga diperjual belikan di kafe kucing ini.

image

Kafe kucing di Area Stasiun Shimo-Kitazawa, "Cat Cafe Caterism"

Selama hidup saya di Indonesia, saya dan keluarga saya selalu memelihara kucing. Tidak pernah tidak. Halaman rumah saya selalu menjadi tempat membuang kucing (mungkin pemiliknya tahu kalau kucing mereka dibuang di sekitar rumah saya, pasti dipelihara). Alhasil, saya begitu menyukai kucing. Tapi sesuka saya terhadap kucing, saya lebih suka anjing sebenarnya hehe (nggak penting).

Harga masuk kafe kucing biasanya ¥1000 perjam, di yang saya kunjungi kedua kalinya ¥1000 itu sudah termasuk minuman..

Sebagai penggemas kucing-kucingan, satu jam di kafe kucing ini bisa sangat membosankan. Berbeda dengan kucing2 Indonesia, kucing2 kampung yang lincah, kalau di dekatnya ada manusia, otomatis ngeong-ngeong dan “ngusel-usel”, kucing-kucing di kafe kucing biasanya tidak suka dielus-elus. Pengunjung juga tidak diperbolehkan menggendong kucing, mengelus2 kucing ketika makan/minum, memegang kucing dengan temperamen buruk (padahal kucing begini ini yang bikin greget menurut saya, dipegang dikit lalu ngamuk, itu yang buat lucu :p).

image

image

Jadi, pengunjung hanya diperbolehkan foto-foto (tanpa flash), lalu mengamati mereka tidur, atau mengejar2 kucing yang malas dipegang hanya demi satu dua belaian.. Ugh~ Kalau ingin dikerubuti si kucing2, kita harus membeli makanan kucing hehe.. seharga ¥500 per box kecil.

Kalau tidak benar-benar rindu ngelus-elus kucing, saya tidak akan dua kali balik ke kafe kucing ini. Bosan. Tapi
mungkin bagi penggemas kucing yang lain, mengunjungi kafe kucing bisa menjadi salah satu hiburan penghilang setres..

Nggak hanya di Indonesia, lho! :) Di St. Petersburg juga ada!!

Seringkali saya merasakan perasaan inferior yang muncul tanpa ampun, ketika saya harus mengantarkan tamu asing ke tempat-tempat wisata di Indonesia. Perasaan yang konyol, tapi tidak bisa dihindari, terutama saat menemui hal-hal yang saya rasa mereka akan merasa aneh (Jadi sebenarnya saya sendirilah yang kurang pede :p). Contoh yang paling kecil adalah kewajiban membayar kebersihan di Toilet-toilet umum. Saya pikir toilet umum berbayar hanya ada di Indonesia saja! Maklum pada waktu itu saya belum kemana-mana.
Sekalinya saya mendapat kesempatan ke luar negeri, saya langsung banyak melihat hal-hal yang seharusnya tidak membuat saya merasa inferior. Hal-hal yang wajar ditemukan di negara lain. Ya! Sekarang saya sadar. Masyarakat Indonesia memang terlalu memandang tinggi bangsa asing (terutama kulit putih), sehingga kadang memandang remeh budaya sendiri. Dari pengalaman-pengalaman saya di St. Petersburg Rusia, saya mendapat ilmu bahwa semua bangsa, semua negara pasti memiliki sisi baik dan sisi buruk. Sisi buruk yang saya pikir hanya ada di Indonesia, ternyata saya temukan juga lho di St. Petersburg. Apa saja contohnya? Ini pengalaman saya..

1. Toilet Umum Berbayar
Sudah saya contohkan tadi bahwa tadinya saya berpikir bahwa toilet umum berbayar hanya ada di Indonesia. Di St. Petersburg, pemerintah menyediakan toilet umum yang bentuknya mirip box dan ditempatkan di beberapa sudut di taman dan tempat-tempat wisata. Box toilet itu kira-kira berukuran 2.5 x 1.5. Satu box terdiri dari dua toilet di ujung kanan dan kiri, kemudian loket di tengah-tengahnya.
Box biasanya berwarna abu-abu dan selalu dijaga oleh petugas di loket yang tersedia. Biaya yang dibutuhkan untuk sekali pakai toilet adalah….. 30 rubel atau sekitar Rp. 10.000. 😀
Daaaaan… jangan pernah berharap ada air untuk membersihkan diri. Yang biasa disediakan adalah tissu.

2. Toilet Bau
Memang dari perbandingan kebersihan, toilet Indonesia memang agak kalah dengan kebersihan toilet di sana. Tetapi masalah bau, hehehe harus diakui toilet-toilet di St. Petersburg memiliki bau yang khas. Tetapi validitas pengalaman memang patut disangsikan karena saya hanya mencoba-coba toilet wanita saja. Mungkin saja toilet lelaki lebih harum hehe 😀 Nah, bau yang saya maksudkan di sini adalah bau khas yang timbul karena masyarakat St. Petersburg tidak menggunakan air untuk membersihkan diri. Mereka hanya menggunakan tissu yang kemudian dibuang di tempat-tempat sampah yang disediakan. Bagaimanapun juga air seni yang hanya dilapkan, kemudian tissu-tissu tersebut teronggok di sampah di setiap bilik toilet akan menimbulkan bau yang khas tidak nyaman.

3. Peminta-minta dan Pengamen
Saya memang tidak menyebut mereka pengemis, karena walaupun mereka meminta belas kasihan orang lain, mereka tidak ‘begging-begging’ seperti yang sering dilakukan orang Indonesia. Mereka biasanya hanya duduk di salah satu sudut dan meletakkan mangkuk atau tempat uang di sebelah mereka.
Dan pengamen di St. Petersburg pun ada. Tetapi sekali lagi, kesan yang mereka tampilkan sangat berbeda dengan pengamen dari Indonesia. Biasanya pengamen tersebut menggunakan alat-alat musik klasik (saxophone, terompet, dan semacamanya yang saya kurang tahu namanya). Mereka pun hanya berdiri di suatu sudut, kadang-kadang sendiri atau bersama dengan rombongan. Bedanya dengan pengamen Indonesia, pengamen di St. Petersburg tetap menyanyi walaupun tidak ada orang yang lewat :P, sedangkan pengamen Indonesia harus mencari orang dulu baru mulai menyanyi. 😀

4. Pencopet!!
Benar?? Iyaaa 😀 Dan itu yang saya dan teman seperjalanan saya sendiri yang mengalami. Dan yang membuat itu lebih mengejutkan, si pencopet beraksi di MC DONALDS! Waaooww.. tempat yang bagi orang Indonesia sangat mewah dan bebas gangguan.
Dan saya pikir si pencopet juga memanfaatkan “keasingan” kami yang tampak jelas. Kami waktu itu rombongan berlima. Ketika kami menikmati menu dalam satu meja, ada seorang lelaki yang mendadak menanyakan tentang “wifi”. Karena kami juga tidak mengerti bahasa Rusia, kami hanya mengangguk-angguk saja ketika lelaki itu nyerocos. Saya yakin pada saat itulah si pencopet beraksi, karena semua mata tertuju pada si bapak wifi ini.
Beberapa saat kemudian, muncul bapak-bapak yang lain yang berteriak-teriak menuding tas di meja ujung. Kami menggeleng-geleng, karena kami tidak merasa duduk di meja lain. Tetapi bapak ini tetap bersikeras menunjuk meja tersebut. Salah seorang teman saya mendadak sadar bahwa tas yang ditunjuk si bapak tadi adalah tas miliknya. Dan benar saja, semua uang di dompet ludes. Untung saja dia hanya membawa $100 dan beberapa rubel. Dokumen2 lain sama sekali tidak diambilnya, ffiuuuhh…. padahal kebetulan waktu itu paspor saya, saya titipkan dia. 😀

5. Taksi borongan
Eheh! dipikirnya cuma di Jakarta, kan? Di St. Petersburg juga ada di bandara Internasional lagi. 😀 Dari panitia saya diberi informasi bahwa tarif taksi akan berkisar dari 1200 – 1600 Rubel. Kami pun dengan pede mengantri di loket taksi yang dimaksud. Sayang sekali, saya sama sekali tidak dilayani oleh petugas loket karena ybs tidak bisa bahasa Inggris. Lalu munculah bapak-bapak yang wajahnya mirip artis Hollywood, menawarkan taksi. Kami sudah bertanya terlebih dahulu “do you use taximeter?” dia hanya menjawab “ya.. ya taximeter”
Kami pun percaya diri. Setelah beberapa saat kami berkendara, si bapak memberikan daftar tarif taksi yang bedaaaa banget seperti yang dijelaskan oleh panitia. Untuk perjalanan kami, kami ditagih 3500 Rubel. Hehehe penasaran kurs rupiahnya berapa? Itu sekitar satu juga rupiah untuk perjalan sejauh Bandara SH ke Senayan :D.

6. Angkot
Dipikirnya angkot cuma ada di Indonesia? Di St. Petersburg juga ada 😀 Walaupun mereka memiliki subway, tetapi angkot juga dipakai di St. Petersburg. Angkotnya hampir berbentuk seperti mobil kijang, tetapi kapasitas penumpang lebih banyak. Pintu geser. Mereka menyebut angkot dengan METRO.

7. Menu Mc. Donald
Hehehe alhamdulillah banget ternyata menu Mc.D itu hampir sama di seluruh dunia (asumsi saya). Di Rusia pun ada juga menu-menu yang sama seperti di Indonesia seperti Fillet O’Fish, Cheese Burger, Nugget, dan lain-lain walaupun dengan tulisan Cirilik. Untung banget saya bisa baca huruf itu jadi enjooy.. 😀

Lumayan banyak kan? Hal-hal remeh yang membuat saya tadinya merasa inferior, ternyata di negara lain juga ada. Jadinya sekarang saya lebih berpikir objektif 😀

Di Jalanan Nevsky Prospekt

Angin laut Baltik yang tak mampu teredam tingginya bangunan-bangunan tua di Jalanan Nevsky Prospekt bukan tidak membuatnya sesaat terhenti. Ini memang kali pertama dia di negara orang, tapi bukan itu alasan dia terhenti. Dengan cuaca di antara sepuluh derajat itu, dia kebaskan pikiran-pikiran dengan bebas. Wajahnya telah diwarnai kelelahan, akan tetapi mau tak mau tetap saja menebarkan rona kekaguman. Bukan pada gemerlap kota tua di jalanan Nevsky Prospekt, tidak pada hujan rintik-rintik di awal musim semi atau pada gadis-gadis pirang dengan rok mini-nya. Dahinya yang berkerut, menyampaikan kekagumannya pada bagaimana benang-benang mimpi yang selama ini dikumpulkannya, mulai terjalin mengantarkan kepada sebuah bentuk yang nyata.

Dia disana. Seorang asing yang berada di antara orang-orang asing yang menganggapnya asing dengan bahasa yang asing pula. Bagaimana bisa dia sampai di kota tua megah ini? bagaimana bisa? dia mulai bertanya kepada sungai-sungai yang mengalir di setiap blok di sepanjang jalan. Menerawang, selalu tak menyadari dia berjalan dengan 3 teman lainnya. Biarlah teman-teman seperjalanannya mengiranya gadis judes yang terlalu serius, pikirnya. Dia hanya ingin sedikit berpikir.

Ketika bongkahan es yang mengalir melewati ekor matanya, dia termenung. Bukan tak lain semua itu hanyalah berawal dari rasa ingin. Dia dulu pernah ingin, tapi hanya bercanda saja. Di antara ratusan mimpi-mimpi edan yang dituliskannya pada sebuah buku yang berjudul buku mimpi, ada satu nama negara, RUSIA, yang ditulisnya.

“Ayo foto-foto di sini” kata salah seorang temannya, menyadarkannya bahwa dia tidak sendiri. Dengan sedikit meringis diambilnya kamera SLR hasil pinjaman, teman-temannya agak terganggu dengan sikapnya yang agak mencemooh. Ingin dia sampaikan, bukan karena foto-foto itu dia kesalkan!! Dia hanya masih tak mampu mencerna dengan jelas pertanyaan-pertanyaan kalbu yang masih dipikirkan sebelum sang teman memutuskan jalinan pikiran dan menyadarkannya kembali ke dunia.

“Apa kita benar-benar di Rusia?” tanyanya bodoh. Ini pertanyaan yang sudah ditanyakan berkali-kali kepada teman-temannya. Mereka sudah mulai bosan. Dinginnya cuaca membenamkan tangan-tangan semakin dalam ke jaket tebal. “Ahahahaha” lalu tiba-tiba dia tertawa dengan riang, ingin menarik perhatian teman-temannya. Tapi terlambat, udara semakin dingin, mulut-mulut terkunci dan tertutup syal. Aksinya tertawa tidak benar-benar menarik perhatian teman yang lain.

“Itu kathedral yang lain” kata salah seorang temannya, menunjukkan sebuah bangunan indah di ujung sungai. Dia menelan ludah mengikuti arah yang ditunjukkan temannya itu. Храм Спаса на Крови atau Khram Spasa na Krovi, sebuah bangunan indah berwarna-warni menguarkan atmosfer mistik dan syahdu. Keindahan yang menakjubkan. Sungguh. Dia belum pernah melihat bangunan indah nan agung, hantaran umat pemuja pada kebesaran sosok pahlawan bersatu dalam iringan pujaan agama.

“Aku tahu sekarang” bisiknya. Tuhan Membawakannya dekat pada kotak-kotak mimpi yang selama ini hanya berani dia tuliskan di buku mimpi. Bukannya karena dia berhasil berjuang untuk mendapatkan itu, tapi semata-mata karena tarian takdirnya menjawab mimpi dalam iringan doa-doa.