Days in St. Petersburg

Recalling memorable times in St. Petersburg, Russia

Advertisements

Nggak hanya di Indonesia, lho! :) Di St. Petersburg juga ada!!

Seringkali saya merasakan perasaan inferior yang muncul tanpa ampun, ketika saya harus mengantarkan tamu asing ke tempat-tempat wisata di Indonesia. Perasaan yang konyol, tapi tidak bisa dihindari, terutama saat menemui hal-hal yang saya rasa mereka akan merasa aneh (Jadi sebenarnya saya sendirilah yang kurang pede :p). Contoh yang paling kecil adalah kewajiban membayar kebersihan di Toilet-toilet umum. Saya pikir toilet umum berbayar hanya ada di Indonesia saja! Maklum pada waktu itu saya belum kemana-mana.
Sekalinya saya mendapat kesempatan ke luar negeri, saya langsung banyak melihat hal-hal yang seharusnya tidak membuat saya merasa inferior. Hal-hal yang wajar ditemukan di negara lain. Ya! Sekarang saya sadar. Masyarakat Indonesia memang terlalu memandang tinggi bangsa asing (terutama kulit putih), sehingga kadang memandang remeh budaya sendiri. Dari pengalaman-pengalaman saya di St. Petersburg Rusia, saya mendapat ilmu bahwa semua bangsa, semua negara pasti memiliki sisi baik dan sisi buruk. Sisi buruk yang saya pikir hanya ada di Indonesia, ternyata saya temukan juga lho di St. Petersburg. Apa saja contohnya? Ini pengalaman saya..

1. Toilet Umum Berbayar
Sudah saya contohkan tadi bahwa tadinya saya berpikir bahwa toilet umum berbayar hanya ada di Indonesia. Di St. Petersburg, pemerintah menyediakan toilet umum yang bentuknya mirip box dan ditempatkan di beberapa sudut di taman dan tempat-tempat wisata. Box toilet itu kira-kira berukuran 2.5 x 1.5. Satu box terdiri dari dua toilet di ujung kanan dan kiri, kemudian loket di tengah-tengahnya.
Box biasanya berwarna abu-abu dan selalu dijaga oleh petugas di loket yang tersedia. Biaya yang dibutuhkan untuk sekali pakai toilet adalah….. 30 rubel atau sekitar Rp. 10.000. πŸ˜€
Daaaaan… jangan pernah berharap ada air untuk membersihkan diri. Yang biasa disediakan adalah tissu.

2. Toilet Bau
Memang dari perbandingan kebersihan, toilet Indonesia memang agak kalah dengan kebersihan toilet di sana. Tetapi masalah bau, hehehe harus diakui toilet-toilet di St. Petersburg memiliki bau yang khas. Tetapi validitas pengalaman memang patut disangsikan karena saya hanya mencoba-coba toilet wanita saja. Mungkin saja toilet lelaki lebih harum hehe πŸ˜€ Nah, bau yang saya maksudkan di sini adalah bau khas yang timbul karena masyarakat St. Petersburg tidak menggunakan air untuk membersihkan diri. Mereka hanya menggunakan tissu yang kemudian dibuang di tempat-tempat sampah yang disediakan. Bagaimanapun juga air seni yang hanya dilapkan, kemudian tissu-tissu tersebut teronggok di sampah di setiap bilik toilet akan menimbulkan bau yang khas tidak nyaman.

3. Peminta-minta dan Pengamen
Saya memang tidak menyebut mereka pengemis, karena walaupun mereka meminta belas kasihan orang lain, mereka tidak ‘begging-begging’ seperti yang sering dilakukan orang Indonesia. Mereka biasanya hanya duduk di salah satu sudut dan meletakkan mangkuk atau tempat uang di sebelah mereka.
Dan pengamen di St. Petersburg pun ada. Tetapi sekali lagi, kesan yang mereka tampilkan sangat berbeda dengan pengamen dari Indonesia. Biasanya pengamen tersebut menggunakan alat-alat musik klasik (saxophone, terompet, dan semacamanya yang saya kurang tahu namanya). Mereka pun hanya berdiri di suatu sudut, kadang-kadang sendiri atau bersama dengan rombongan. Bedanya dengan pengamen Indonesia, pengamen di St. Petersburg tetap menyanyi walaupun tidak ada orang yang lewat :P, sedangkan pengamen Indonesia harus mencari orang dulu baru mulai menyanyi. πŸ˜€

4. Pencopet!!
Benar?? Iyaaa πŸ˜€ Dan itu yang saya dan teman seperjalanan saya sendiri yang mengalami. Dan yang membuat itu lebih mengejutkan, si pencopet beraksi di MC DONALDS! Waaooww.. tempat yang bagi orang Indonesia sangat mewah dan bebas gangguan.
Dan saya pikir si pencopet juga memanfaatkan “keasingan” kami yang tampak jelas. Kami waktu itu rombongan berlima. Ketika kami menikmati menu dalam satu meja, ada seorang lelaki yang mendadak menanyakan tentang “wifi”. Karena kami juga tidak mengerti bahasa Rusia, kami hanya mengangguk-angguk saja ketika lelaki itu nyerocos. Saya yakin pada saat itulah si pencopet beraksi, karena semua mata tertuju pada si bapak wifi ini.
Beberapa saat kemudian, muncul bapak-bapak yang lain yang berteriak-teriak menuding tas di meja ujung. Kami menggeleng-geleng, karena kami tidak merasa duduk di meja lain. Tetapi bapak ini tetap bersikeras menunjuk meja tersebut. Salah seorang teman saya mendadak sadar bahwa tas yang ditunjuk si bapak tadi adalah tas miliknya. Dan benar saja, semua uang di dompet ludes. Untung saja dia hanya membawa $100 dan beberapa rubel. Dokumen2 lain sama sekali tidak diambilnya, ffiuuuhh…. padahal kebetulan waktu itu paspor saya, saya titipkan dia. πŸ˜€

5. Taksi borongan
Eheh! dipikirnya cuma di Jakarta, kan? Di St. Petersburg juga ada di bandara Internasional lagi. πŸ˜€ Dari panitia saya diberi informasi bahwa tarif taksi akan berkisar dari 1200 – 1600 Rubel. Kami pun dengan pede mengantri di loket taksi yang dimaksud. Sayang sekali, saya sama sekali tidak dilayani oleh petugas loket karena ybs tidak bisa bahasa Inggris. Lalu munculah bapak-bapak yang wajahnya mirip artis Hollywood, menawarkan taksi. Kami sudah bertanya terlebih dahulu “do you use taximeter?” dia hanya menjawab “ya.. ya taximeter”
Kami pun percaya diri. Setelah beberapa saat kami berkendara, si bapak memberikan daftar tarif taksi yang bedaaaa banget seperti yang dijelaskan oleh panitia. Untuk perjalanan kami, kami ditagih 3500 Rubel. Hehehe penasaran kurs rupiahnya berapa? Itu sekitar satu juga rupiah untuk perjalan sejauh Bandara SH ke Senayan :D.

6. Angkot
Dipikirnya angkot cuma ada di Indonesia? Di St. Petersburg juga ada πŸ˜€ Walaupun mereka memiliki subway, tetapi angkot juga dipakai di St. Petersburg. Angkotnya hampir berbentuk seperti mobil kijang, tetapi kapasitas penumpang lebih banyak. Pintu geser. Mereka menyebut angkot dengan METRO.

7. Menu Mc. Donald
Hehehe alhamdulillah banget ternyata menu Mc.D itu hampir sama di seluruh dunia (asumsi saya). Di Rusia pun ada juga menu-menu yang sama seperti di Indonesia seperti Fillet O’Fish, Cheese Burger, Nugget, dan lain-lain walaupun dengan tulisan Cirilik. Untung banget saya bisa baca huruf itu jadi enjooy.. πŸ˜€

Lumayan banyak kan? Hal-hal remeh yang membuat saya tadinya merasa inferior, ternyata di negara lain juga ada. Jadinya sekarang saya lebih berpikir objektif πŸ˜€

Di Jalanan Nevsky Prospekt

Angin laut Baltik yang tak mampu teredam tingginya bangunan-bangunan tua di Jalanan Nevsky Prospekt bukan tidak membuatnya sesaat terhenti. Ini memang kali pertama dia di negara orang, tapi bukan itu alasan dia terhenti. Dengan cuaca di antara sepuluh derajat itu, dia kebaskan pikiran-pikiran dengan bebas. Wajahnya telah diwarnai kelelahan, akan tetapi mau tak mau tetap saja menebarkan rona kekaguman. Bukan pada gemerlap kota tua di jalanan Nevsky Prospekt, tidak pada hujan rintik-rintik di awal musim semi atau pada gadis-gadis pirang dengan rok mini-nya. Dahinya yang berkerut, menyampaikan kekagumannya pada bagaimana benang-benang mimpi yang selama ini dikumpulkannya, mulai terjalin mengantarkan kepada sebuah bentuk yang nyata.

Dia disana. Seorang asing yang berada di antara orang-orang asing yang menganggapnya asing dengan bahasa yang asing pula. Bagaimana bisa dia sampai di kota tua megah ini? bagaimana bisa? dia mulai bertanya kepada sungai-sungai yang mengalir di setiap blok di sepanjang jalan. Menerawang, selalu tak menyadari dia berjalan dengan 3 teman lainnya. Biarlah teman-teman seperjalanannya mengiranya gadis judes yang terlalu serius, pikirnya. Dia hanya ingin sedikit berpikir.

Ketika bongkahan es yang mengalir melewati ekor matanya, dia termenung. Bukan tak lain semua itu hanyalah berawal dari rasa ingin. Dia dulu pernah ingin, tapi hanya bercanda saja. Di antara ratusan mimpi-mimpi edan yang dituliskannya pada sebuah buku yang berjudul buku mimpi, ada satu nama negara, RUSIA, yang ditulisnya.

“Ayo foto-foto di sini” kata salah seorang temannya, menyadarkannya bahwa dia tidak sendiri. Dengan sedikit meringis diambilnya kamera SLR hasil pinjaman, teman-temannya agak terganggu dengan sikapnya yang agak mencemooh. Ingin dia sampaikan, bukan karena foto-foto itu dia kesalkan!! Dia hanya masih tak mampu mencerna dengan jelas pertanyaan-pertanyaan kalbu yang masih dipikirkan sebelum sang teman memutuskan jalinan pikiran dan menyadarkannya kembali ke dunia.

“Apa kita benar-benar di Rusia?” tanyanya bodoh. Ini pertanyaan yang sudah ditanyakan berkali-kali kepada teman-temannya. Mereka sudah mulai bosan. Dinginnya cuaca membenamkan tangan-tangan semakin dalam ke jaket tebal. “Ahahahaha” lalu tiba-tiba dia tertawa dengan riang, ingin menarik perhatian teman-temannya. Tapi terlambat, udara semakin dingin, mulut-mulut terkunci dan tertutup syal. Aksinya tertawa tidak benar-benar menarik perhatian teman yang lain.

“Itu kathedral yang lain” kata salah seorang temannya, menunjukkan sebuah bangunan indah di ujung sungai. Dia menelan ludah mengikuti arah yang ditunjukkan temannya itu. Π₯Ρ€Π°ΠΌ Бпаса Π½Π° ΠšΡ€ΠΎΠ²ΠΈ atau Khram Spasa na Krovi, sebuah bangunan indah berwarna-warni menguarkan atmosfer mistik dan syahdu. Keindahan yang menakjubkan. Sungguh. Dia belum pernah melihat bangunan indah nan agung, hantaran umat pemuja pada kebesaran sosok pahlawan bersatu dalam iringan pujaan agama.

“Aku tahu sekarang” bisiknya. Tuhan Membawakannya dekat pada kotak-kotak mimpi yang selama ini hanya berani dia tuliskan di buku mimpi. Bukannya karena dia berhasil berjuang untuk mendapatkan itu, tapi semata-mata karena tarian takdirnya menjawab mimpi dalam iringan doa-doa.